Fase hidup paling rimba, dan paling fragile, barangkali proses mencari kerja selepas kuliah. Betul-betul meraba harus melakukan apa. Bertanya-tanya apakah CV ini sudah menarik, lalu membuat daftar panjang mengenai perusahaan yang ingin dimasuki, hingga puncaknya tak lagi pilih-pilih setelah lama menganggur. Nggak lagi idealis harus sesuai jurusan kuliah —asal bisa bekerja.
Pada titik rentan ini lah, perlu kehadiran orang-orang yang membantu kita jadi lebih percaya diri. Membantu dengan mengoreksi apa yang salah, lalu mendorong kita untuk nggak bosan mencoba. Ketika kita berhasil mendapat pekerjaan pertama, mereka nggak kalah excited dengan mengucapkan selamat. Hari itu, hidupmu benar-benar diberkati oleh lingkungan yang baik. Mari bersyukur.
Dan kelak, bila orang-orang itu pergi, bersiaplah untuk yang terburuk; bahwa kebahagiaan ada kalanya harus berakhir. Orang-orang terus berkembang. Mungkin bukan kamu yang diperlukan mereka bertumbuh di hari ini. Jadi anggap kalian bertemu sesuai baris waktu untuk memberi pembelajaran satu sama lain.
Kamu mungkin akan ingat kehadiran mereka —meski tidak sebaliknya. Nggak apa. Kenang mereka baik-baik. Dan berterima kasihlah pada semesta akan kehadiran setiap orang dalam hidupmu. Ikatan yang pernah terjalin ngga akan betul-betul menghilang kok. Kamu hanya sedang disimpan dalam satu loker. Semoga kuncinya tidak dibuang.