01:20

By Kotak Kaca - September 14, 2022

Malam ini, aku menatapmu lamat lamat. Seolah ini kali terakhir wajahmu bisa aku lihat. Remang, lampu sudah dimatikan. Sudah pukul 01.20 malam sekarang. Namun mataku belum bisa terpejam, terhalang air mata yang berlarian saling berebutan. Samar samar, -liuk wajahmu terbentuk. Paras paling aku suka sejak  pertama jumpa; seperti yang sudah aku bilang berbanyak banyak kali. Biasanya kamu menanggapi seraya mengagulkan perangai elokmu yang memabukkan. Kali ini, kamu sudah terpejam, dibuai kembang mimpi terbang entah kemana.


Aku kecup punggung tanganmu; pelan, dalam. Seperti akhir waktu bibirku bisa mendarat disitu. Ku usap pelan, ku belai halus, lengan ini penenang paling hebat, sayang. Satu elusnya, rontok semua ketidaknyamanan di dada. Namun kali ini berbeda, tiap geraknya hanya membuat aku bertanya-tanya; akankah elus maha dahsyat ini tetap ada, atau esok aku sudah harus mandiri mengusap sedihku sendiri?


Di kepalaku, berputar banyak sekali lagu lagu sendu. Semuanya tentang perpisahan. Tergurat pedih perasaan penulis lagu dalam setiap liriknya. Sakitnya terasa di tiap tiap melodi. Do, re, mi, fa, sol, la, si, hampir seluruhnya menunjukkan kerendahan diri. Tak sanggup ditinggal pergi. 


Aku bisa merasakan sakitnya Selena Gomez saat ditinggalkan Justin Bieber, Ifan Seventeen kehilangan Dylan Sahara, atau bahkan Udin dan Siti yang tidak bisa bersama. Ah, part Udin dan Siti aku yang karang karang namanya, sebenernya aku gatau mereka siapa, nggak kenal. 


Bukan hanya aku yang sakit, kamu juga. Bahkan mungkin lebih dari yang aku punya. Maaf aku nggak sanggup menenangkan sakitmu. Kita sama-sama terluka untuk saling menyelamatkan. Aku berdarah-darah, sedang lukamu lebih parah. Tapi kamu harus bangkit dengan jalanmu, aku juga gitu. Kita harus sama-sama bertahan. Mati barengan terlalu Romeo dan Juliet, budaya barat. Haram. 


Maaf, perkara melepasmu aku selalu hiperbola. Tidak pernah bisa tegar dan tanpa air mata. Aku cengeng, lemah, hanya menambah nambah bebanmu saja. Tangis ini, ego ini, semata-mata untuk baikmu nantinya. Maaf kalau aku jahat. 

Aku sayang kamu, -itu saja.

x

  • Share:

You Might Also Like

0 comments