Bagai-mana

By Kotak Kaca - March 31, 2020

Bagaimana aku bisa tahu kabarmu bila bukan kamu yang memberitahu?

Kamu itu ada namun tak ada. Terlihat namun sembunyi. Terdengar namun tak pasti. Begitu banyak keraguan, namun sekedar di pikiran. Bukan di hati.

Bagaimana aku bisa tahu "kamu kenapa" bila bukan kamu yang memberitahu? Haruskah aku memaksa Tuhan untuk memberitahuku? Bukankah tanpa terucap pun kamu dan aku akan tetap ada? Walau jauh di raga namun satu bagi jiwa. Mungkin bukan bagi kita tetapi diingat oleh teman dan saudara.

Selalu ingin kutanyakan setiap hari, tentang hari ini. Apa yang sedang kamu jalani, apa yang menarik pagi atau sore hari, serta apa yang kamu lalui hingga menjumpai malam dengan senyuman tanpa gigi.

Selalu ingin kutanyakan perihal itu setiap hari, kepadamu. Supaya aku tahu kabarmu, supaya dengan begitu kita akan terus saling mengabari.

Namun, baru terlintas dengan jelas, ketika membuka namamu lalu menuliskan sesuatu, buru-buru kuhapus lagi. Mengapa? Aku takut. Aku takut kalau-kalau hanya aku yang berpikiran seperti ini.

Aku takut kalau-kalau ternyata kamu tidak sama. Aku takut kalau-kalau ternyata kamu menganggap ini tak ada artinya. Untuk seseorang seperti aku, buat apa segala perasaan dilibatkan bila kamu bukanlah apa-apa. Buat apa segala kutuliskan bila ulasan ini hanya manis di mata.

Kamu memang sederhana. Tetapi tidak sesederhana itu. Aku masih butuh banyak waktu untuk membuka sinar itu. Sinar yang terlihat indah dari balik awan, ketika matahari terbit dari ujung lautan.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments